EFEK COMPTON
Kelompok 4 (empat)
Nama Anggota:
·
Zaimatul Hasanah 210603110069
·
Melani Saskya
Firanda Putri 210603110070
·
Masrurotul Ilmi 210603110073
·
Dewi Masrukha 210603110083
Efek Compton
1.
Sejarah Efek Compton
1.1
Sejarah Efek Compton
Pada tahun 1905 para
ilmuwan pertama kali mengusulkan bahwa cahaya terdiri dari foton dengan jumlah
energi tertentu, namun hipotesis ini belum dapat menunjukkan bahwa foton ini
juga membawa momentum. Menurut teori gelombang klasik, jika berkas gelombang dengan
frekuensi
Namun, eksperimen
Compton menghasilkan temuan yang tidak sesuai dengan prediksi hipotesis
konvensional. Hamburan Compton, yang merupakan penghamburan foton oleh partikel
yang sering kali seringkali bermuatan elektron, teori ini ditemukan oleh Arthur
Holly Compton. Efek Compton merupakan peningkatan panjang gelombang (berupa
foton sinar-X atau sinar gamma). Sebagian dari energy foton diberikan ke
elektron recoiling. Ketika partikel bermuatan memberikan sebagian energinya ke
foton ini disebut dengan hamburan Compton Invers.
Compton
mengungkapkan hasil eksperimennya pada tahun 1923 dengan menyatakan bahwa
berkas (dalam hal ini sinar-x) yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan
material sebenarnya adalah arus foton dari bahan
radioaktif lempengan tipis. Gelombang elektromagnetik akan menyebar setelah
keluar dari lempengan tipis. Hasil percobaan menunjukkan bahwa panjang
gelombang foton yang masuk lebih pendek dari panjang gelombang foton yang dihamburkan.
Compton berpikir bahwa foton adalah sejenis zat, atau gelombang
elektromagnetik. Hukum kekekalan momentum berlaku karena struktur material
dapat menjelaskan variasi panjang gelombang foton yang terjadi ketika momentum
terjadi. Sehingga diperoleh hasil eksperimen yaitu:
a. Elektron berperan penting
dalam proses penghamburan suatu kuantum cahaya atau foton.
b. Cahaya kuantum dapat datang
dari berbagai arah yang tersebar di arah tertentu.
c. Gumpalan radiasi atau
foton mengandung momentum linier dan membawa energi.[1]
1.2
Pengertian Efek Compton
Efek Compton
merupakan peristia terhamburnya foton, atau sinar-X yang menumbuk elektron diam
stasioner yang menyebar menjadi foton dan electron[2]. Compton
bereksperimen pada waktu itu dengan menembakkan sinar-X dari lembaran tipis
bahan radioaktif. Gelombang elektromagnetik akan menyebar setelah keluar dari
pelat tipis. Terbukti dari percobaan bahwa foton yang datang memiliki panjang
gelombang yang lebih pendek dari pada foton yang tersebar.
Di perkuat oleh Teori kuantum
Einstein dan eksperimen Compton menjadi dasar penciptaan cahaya bersifat
memiliki panjang gelombang dan partikel.
Ciri-ciri cahaya yang bersifat partikel adalah sebagai berikut:
a. Bergerak dengan kecepatan
C
b. Memiliki energy= hv
c. Terkonsentrasi di daerah
dengan ruang batas
d. Memiliki momentum Linier.
P= ε/c dengan massa mo
2.
Hamburan Efek Compton
Hamburan
Compton ialah tabrakan yang inkoheren
antara electron bebas atom dan foton yang bergantung pada nomor atom dan energi
foton. Interaksi hamburan Compton bergantung pada densitas medium karena
hamburan compton ini merupakan interaksi dengan electron atom, dan tidak merusak densitas. Fenomena ini di
jelaskan dengan, suatu sumber foton di
letakkan di Ps dan di sejajarkan arah cahayanya sehingga
hanya menyinarkan radiasi ke satu arah saja (pencil beam) yaitu arah Ps-Pv.
Foton tsb mengalami penurunan tingkat intensitas sepanjang Pm-Pv, dalam element volume (voxel)
dengan probabilitas tententu (fungsi σ) ke arah Pv-Pout, foton akan mengalami
hamburan dan sepanjang Pv-Pout juga akan mengalami atenuasi (penurunan tingkat
inensitas) setelah terhambur. [3]
Perubahan yang dialami foton akibat hamburan energi
ini ialah energi yang awalnya awalnya E0 menjadi energi E’ tergantung pada
sudut hamburan mengikuti persamaan
dimana : E0 dan E’ adalah energi foton sebelum
dan sesudah hamburan (MeV), θ sudut hamburan, dan m0.c2 energi diam elektron
(0,511 MeV).
Gambar
1.1 www.google.com
Arthur Compton adalah penemu yang mengamati fenomena
ini di tahun 1923 dan penemuan ini yang menjadikan petunjuk cahaya itu tidak
bisa disifatkan semata-mata sebagai peristiwa gelombang, tetapi cahaya itu juga
dapat bersifat sebagai partikel (satuan
energi dalam cahaya) yangmana frekuensi nya sebanding dengan energinya.
Interaksi antara foton dan electron bebas yang terikat lemah dengan objek yang
teradiasi akan mengalami pengurangan kecepatan dan energi. Energi tersebut akan
diberikan pada electron yang meneruskan tetapi dengan arah yang berbeda,
electron tersebt akan memiliki energi kinetic dan dapat mengionisasi atom [4]
Perubahan Panjang gelombang untuk satuan dalam cahaya
diberikan dengan persamaan berikut :
Gambar
1.2 www.google.com
dari fenomena ini didapatkan rumus
efek Compton :
3.
Rumus Efek Compton
3.1
Persamaan Efek Compton
E = mc2
E = m c c = p c
Dimana
·
E = Energi (J)
·
m= massa (kg)
·
c = kecepatan cahaya (m/s)
3.2
Rumus Energi
Foton Planck
E = hf
p = hf
p = h/λ
Dimana:
·
p = momentum foton (Ns)
·
h = tetapan Planck (Js)
·
f = frekuensi gelombang elektromagnetik (Hz)
·
c = laju cahaya (m/s)
·
λ = panjang gelombang foton (m)
3.3
Penurunan Rumus Efek Compton
untuk membuktikan bahwa panjang
gelombang cahaya itu akan semakin lebih besar setelah
terjadi “tumbukan” adalah
sebagai berikut:
foton sebelum menumbuk electron
memiliki energy sebesar 𝐸 = ℎ𝑓 begitu juga dengan
electron memiliki energy diam sebesar𝐸𝑒 𝑑𝑖𝑎𝑚 = 𝑚𝑜𝑐2.Namun pada saat foton
menumbuk electron maka energy dari foton akan berubah sebesar 𝐸’ = ℎ𝑓’,begitu juga dengan electron yang tertumbuk oleh foto akan memiliki energy setelah tertumbuk
oleh foton sebesar
𝐸′𝑒=
𝐸𝑓 = 𝐸𝑒
𝐸’ − 𝐸 = 𝐸′𝑒 − 𝐸𝐸
ℎ𝑓’ − ℎ𝑓=
ℎ𝑓’ − ℎ𝑓 +
Kuadratkan kedua ruas
(ℎ𝑓’ − ℎ𝑓
+ 𝑚𝑜𝑐2)2 = (√𝑝′
2𝑐2
+ 𝑚𝑜𝑐4 )2
(ℎ𝑓’ − ℎ𝑓
+ 𝑚𝑜𝑐2)2 = 𝑝′
2𝑐2
+ 𝑚𝑜𝑐4
(ℎ𝑓’ − ℎ𝑓
+ 𝑚𝑜𝑐2)2 – 𝑚𝑜𝑐4
= 𝑝′ 2𝑐2
𝑝′
2𝑐2
= (ℎ𝑓’ − ℎ𝑓
+ 𝑚𝑜𝑐2)2 – 𝑚𝑜𝑐4......................................... (1)
besarnya momentum electron
yang terpental bisa dicari dengan menggunakan aturan cosinus pada sebuah
segitiga.
𝑝𝑒′ 2 = 𝑝 2– 𝑝′ 2 − 2𝑝𝑝’ 𝑐𝑜𝑠 𝜃
kedua ruas kita
kalikan dengan c2
Energy foton: E = f h m c c = h f m c = ket : m c =
𝑝𝑒′ 2𝑐2 = 𝑝 2𝑐2– 𝑝′ 2𝑐2 − 2𝑝𝑝’𝑐2 𝑐𝑜𝑠 𝜃
Dari persamaan 1 (
P’
(ℎ𝑓’ − ℎ𝑓
+ 𝑚𝑜𝑐2)2 –𝑚𝑜𝑐4= ℎ2𝑓2
– ℎ2𝑓′ 2
– 2ℎ2𝑓 𝑓
‘𝑐𝑜𝑠
𝜃
dengan menjabarkan (hf’-hf+ moc2)2 kita akan dapatkan
h2f2 - h2f f ‘+hf moc2- h2f f ‘+h2f ‘2+hf ‘moc2+ hf moc2- hf ‘moc2 +
= h2f2 – h2f
’ 2 – 2h2f f ‘cos Ө
-2h2f f ‘+hf ‘moc2- hf ‘-2 hf ‘moc2= - 2h2f
f ‘cos Ө
2 hf moc2 - 2 hf ‘moc2 =2h2f f ‘-2h2f f ‘cos Ө
2 hf
moc2 (f-f’) = 2h2f f ‘ (1 – cos Ө)
kedua ruas kita kalikan
dengan 1/2 hf f ‘ moc2
4.
Penerapan Efek Compton
Pada
tahun 1923 ditemukan bahwa sinar-X dihamburkan oleh elektron bebas. Panjang
gelombang sinar-X yang tersebar lebih panjang dari panjang gelombang sinar-X
sebelum mereka berinteraksi dengan elektron bebas, sebuah fenomena yang disebut
pergeseran Compton. Adapun penerapan efek Compton adalah sebagai berikut :
a. Teleskop Compton (Comptel)
Teleskop Compton, lebih dikenal
sebagai Comptel, merupakan pengembangan lebih lanjut dari teleskop hamburan
Compton. Teleskop Hamburan Compton memiliki dua instrumen.
Pada tingkat tertinggi, terjadi
hamburan kosmik, yaitu elektron-elektron dalam pemindai yang menyebarkan sinar gamma Compton. Selanjutnya,
pada tingkat kedua, bahan sintilator menyerap
foton yang tersebar, menyebabkan
foton bergerak secara independen ke bawah.
Prinsip kerja teleskop Compton adalah lapisan pertama
berwarna biru dan lapisan kedua berwarna hijau. Foton yang masuk dari atas akan
mengirimkan compton ke lapisan deteksi pertama, yang kemudian diserap oleh
lapisan hijau atau kedua.
Sinar gamma Compton akan tersebar di
lapisan atas dan hanya sebagian kecil dari area tersebut yang dapat dideteksi
oleh teleskop hamburan Compton. Setiap lapisan memiliki kemampuan unik untuk
menyimpan hasil pengukuran energi dengan resolusi energi detektor terbatas ketidakpastian.
Terlepas dari itu semua, hasil yang
didapat cukup baik yaitu 5% sampai 10%. Saat ini, penelitian Compton hanya
difokuskan pada pelacakan elektron pada tingkat tertinggi, sehingga solusi
untuk penetrasi sinar gamma dapat ditemukan.
b. NCT
Teleskop Nuklir Compton (NCT)
adalah teleskop balon soft-beam (0,215
meV) yang dirancang untuk mendeteksi sumber astrofisika garis emisi nuklir dan pola sinar. NCT
menggunakan rangkaian 12 detektor pencitraan 3D germanium (ged).
c. Spektroskopi Gamma
Sinar
gamma adalah sinar yang tidak terlihat secara langsung dengan mata telanjang.
Sinar ini dibuat dari bahan radioaktif, sehingga perlu menggunakan detektor
untuk mengetahui keberadaannya.
Detektor yang digunakan untuk
menangkap sinar gamma adalah Nal (TI). Ketika sinar gamma terkena detektor,
yaitu efek fotolistrik, efek Compton dan pembentukan pasangan. Efek fotolistrik
dapat terjadi ketika sinar gamma menumbuk elektron di kulit K suatu atom.
Oleh karena itu, terjadi transisi elektron yang diisi dengan elektron
dari kulit lain. Ketika sinar gamma menyerang elektron terluar dengan daya ikat
yang kecil untuk itu, efek Compton terjadi, menyebabkan elektron bebas
menyebar.
Efek berpasangan terjadi dengan sinar
gamma yang bergerak di dekat inti dengan
bantuan sinar gamma yang cukup. Pasangan
yang terbentuk adalah positron dan elektron. Ketiga efek ini menghasilkan cahaya atau kilau.
Sinar cahaya dikirim ke fotokoda
dengan memecahnya menjadi elektron. Namun elektron ini masih lemah, sehingga
membutuhkan daya preamplifier untuk memperkuat, dan membutuhkan tinggi pulsa
dengan penguat yang dikuatkan
Elektron yang diperkuat kemudian
diumpankan ke PMT, sehingga memiliki output tegangan dua tahap dan memiliki
banyak katoda. Semakin kecil resolusi daya spektroskopi gamma, semakin baik
data yang dapat diperoleh.
Spektroskopi gamma adalah teknik yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi radionuklida dan mengukur
radioaktivitas. Sebagian besar radiasi yang
dihasilkan oleh radionuklida selama peluruhan adalah sinar gamma.
Daftar Pustaka
Elmer E, Anderson. Introduction to Modern Physics.
Saunders College Publising. 1982. halaman 102-105.
Gunawan, G., Setiawan, A., Widyantoro, D.H. 2013.
Model Virtual Laboratory Fisika Modern untuk Meningkatkan Keterampilan Generik
Sains Calon Guru. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 20(1),
25–32.
Rahmawati, A. (2009). Pengkajian koefisien
atenuasi massa material pada proses hamburan compton dengan menggunakan
simulasi yang berbasis bahasa pemrograman delphi 7.0.
Robert B,Leighton. Principles of Modern Physics. Mc
Graw-Hill Book Company,Inc. 1959. halaman 432-433.
Sari, M. B., Pertiwi, K., & Djamal, M. 2017. Perkembangan
Penggunaan Teknik Hamburan Compton Sinar Gamma pada Aplikasi Sistem Uji Tak-
Merusak. Prosiding Snips, 232–237.
Sari, Y. M., Darvina, Y., Masril, M., & ... 2018. Desain
Lks Berbasis Virtual Laboratory Melalui Ict Pada Materi Teknologi Digital, Efek
Compton, Dan Inti Atom Kelas Xii Sma/Ma. Pillar of Physics …, 11(1),
97–104.
http://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/pfis/article/view/2697%0Ahttp://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/pfis/article/viewFile/2697/2220
Surya, J. 2015. Modul Iv Fisika Modern.
Syarip, S., Ahmad, B.,
& Nopianto, P. (2018). Kajian Aplikasi Metode Hamburan Compton Energi Ganda
untuk Pengukuran Densitas Fluidadan Uji Tak Merusak Pipa. Jurnal Sains
Materi Indonesia, 6(3), 1-12.
[1] Gunawan, G., Setiawan, A., Widyantoro, D.H. 2013.
Model Virtual Laboratory Fisika Modern untuk Meningkatkan Keterampilan Generik
Sains Calon Guru. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 20(1),
25–32.
[2]Surya, J. 2015. Modul Iv Fisika Modern.
[3]
Syarip, S., Ahmad, B., &
Nopianto, P. (2018). Kajian Aplikasi Metode Hamburan Compton Energi Ganda untuk
Pengukuran Densitas Fluidadan Uji Tak Merusak Pipa. Jurnal Sains Materi
Indonesia, 6(3), 1-12.
[4]
Rahmawati, A. (2009). Pengkajian
koefisien atenuasi massa material pada proses hamburan compton dengan
menggunakan simulasi yang berbasis bahasa pemrograman delphi 7.0.
Komentar
Posting Komentar